Wednesday, August 14, 2013

Antara Magdalena dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Manfaluthi dan Hamka. Keduanya seolah memiliki keterkaitan meski terpisahkan luasnya samudera. Novel terkenal tulisan Hamka berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” dituduh sebagai plagiat dari novel “Magdalena” karya Al Manfaluthi.
Polemik tersebut bermula dari tulisan di majalah “Bintang Timoer” pada tahun 1962 yang kemudian diikuti oleh media lain. Namun sebenarnya tuduhan itu tidak terlepas dari konteks politik pada masa itu. Hamka  yang dikenal sebagai sastrawan dan ulama muslim terkemuka dianggap sebagai ancaman oleh kelompok berhaluan komunis. Dengan berbagai upaya, kelompok komunis berusaha mendiskreditkan tokoh-tokoh muslim, termasuk Buya Hamka. Polemik tersebut hilang dengan pembelaan Paus Sartra Indonesia, HB Yasin.
Sebagai penikmat novel, saya memang merasakan adanya kemiripan cerita antara “Magdalena” dengan “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Lalu benarkah karya Buya Hamka adalah plagiat? Wallahu’alam.
Berikut ini saya tuliskan ringkasan cerita keduanya:
Magdalena
Novel tragedi ini pertama kali ditulis oleh Alphonse Kart dalam bahasa Perancis berjudul Sous les Tilleus. Novel tersebut lantas disadur oleh Musthafa Lutfi Al Manfaluthi, seorang satrawan Mesir yang tidak bisa berbahasa Perancis. Dengan bantuan sahabatnya, Al Manfaluthi berhasil menulis kembali Soul les Tilleus dalam bahasa Arab dengan judul Al Majdulin. Dan ternyata, Al Majdulin menjadi karya yang terkenal bukan hanya di negeri Arab, namun sampai ke Indonesia.
“Magdalena” berkisah tentang percintaan antara Magdalena dengan Stevan. Cinta itu terhalang restu ayah Magdalena yang menganggap Stevan terlampau miskin untuk menjamin masa depan cerah bagi putrinya. Tak ingin cintanya pupus begitu saja, Stevan bertekad mencari pekerjaan. Ia pun merantau. Tentu saja, setelah sebelumnya berikrar saling setia dalam penantian dengan kekasih hatinya.
Sayang sekali, Magdalena tak cukup tangguh memegang janji. Gemerlap duniawi sejenak membuatnya terlena, dan melupakan Stevan yang tengah berjuang merintis jalan penghidupan demi masa depan mereka. Magdalena memutuskan menikah dengan laki-laki lain yang dipandang lebih berkecukupan.
Stevan patah hati. Tak terkira luka yang ia terima manakala ia saksikan sendiri Magdalena bermesra dengan suaminya. Ia pergi lagi, terlunta-lunta. Dalam kepergiannya, ia menekuni dunia yang dicintainya: musik. Pada musik ia curahkan lara yang mendera. Stevan bermain musik dengan sepenuh hatinya hingga melodi yang ia hasilkan senantiasa membuat orang tercengang. Semakin hari, ia semakin terkenal. Namun sebenarnya, ada lubang menganga dalam batinnya. Stevan tak pernah bisa melupakan Magdalena dan mimpi-mimpi yang pernah mereka rajut bersama.
Di sisi lain, kehidupan malang menimpa Magdalena. Suami yang dibangga-banggakan ternyata musang berbulu domba. Cintanya pada Magdalena adalah cinta semu belaka. Magdalena ditinggalkan dalam keadaan hamil tua.
Dalam kondisi demikian, takdir mempertemukan kembali Magdalena dengan Sevan. Dengan berbesar hati, Stevan menolong Magdalena yang telah jatuh miskin, termasuk menyediakan perawat bagi bayinya. Cinta meretas kembali di hati Magdalena. Ia menyesal karena telah menyakiti Stevan.
Cinta dan dendam. Terkadang keduanya tak terpisahkan. Cinta yang besar rupanya tak mampu menghapus luka hati Stevan hingga ia tak sanggup memaafkan Magdalena. Ia memilih menyembunyikan rasa cinta di balik dinding dendam. Magdalena terpukul. Ia memilih bunuh diri dengan menceburkan diri ke sungai.
Stevan dirundung sesal. Ia menyesal mengapa melepas kekasih yang sebenarnya ia rindukan selama bertahun-tahun. Dari hari ke hari, yang ia inginkan hanya satu; menyusul Magdalena. Keinginan itu akhirnya terkabul setelah ia sakit-sakitan sepeninggal Magdalena. Stevan dikubur di samping makam Magdalena.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Berkisah tentang percintaan Hayati dan Zainuddin yang berlatar belakang adat Batipuh, Padang Panjang. Tak jauh berbeda dengan “Magdalena”, cinta Zainuddin tak direstui oleh keluarga besar Hayati karena ia seorang pemuda miskin. Zainuddin pun akhirnya memutuskan pergi untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Padanya, Hayati berjanji untuk setia sampai mati. Hayati berjanji akan menunggu Zainuddin kembali.
Dalam masa perpisahan itu, datanglah lamaran seorang pemuda berada pada Hayati. Zainuddin melamar Hayati tak lama setelah lamaran itu. Tapi ia terlambat. Lamaran pertama terlnjur diterima keluarga besar kekasihnya. Lagipula, lamaran Zainuddin tak diperhitungkan lagi karena ia dianggap miskin. Padahal ketika melamar, Zainuddin memiliki cukup banyak uang.
Zainuddin sekarat. Selama dua bulan ia terbaring sakit dan hanya menyebut nama Hayati. Namun ia pun sadar, Hayati telah menjadi milik orang. Zainuddin yang hatinya terluka, akhirnya menjauh dari Batipuh. Ia pergi ke tanah Jawa, tepatnya ke Surabaya untuk mencoba melupakan kisah kelamnya. Di Surabaya, ia mulai menulis. Semula menulis untuk koran-koran, lalu seiring berjalannya waktu, ia sukses menjadi sastrawan terkenal.
Sementara nun jauh di sana, keluarga Hayati berantakan. Suaminya bukanlah laki-laki yang baik. Demi menyambung hidup, sang suami mengajak Hayati pindah ke Surabaya. Di kota itu, tak sengaja Hayati bertemu lagi dengan Zainuddin.
Arkian, tak lama kemudian, suami Hayati bunuh diri karena lilitan hutang. Hayati kalut. Ia ditolong oleh Zainuddin. Saat itulah, Hayati menyatakan penyesalannya yang dalam atas pengkhianatannya terhadap Zainuddin. Ia berharap Zainuddin sudi menerimanya kembali.
Namun dendam masih menggelayut di hati Zainuddin. Meski cintanya pada Hayati tak pernah padam, perihnya luka saat ia ditinggal gadis itu membuatnya tak sanggup berkata “iya”. Hayati kecewa. Ia pun memutuskan pulang ke Batipuh dengan menumpang kapal Van Der Wijck.
Sepeninggal Hayati, barulah Zainuddin sadar jika ia merasa kehilangan. Ia berniat menyusul Hayati dan mengajaknya kembali untuk menyatukan cinta. Tapi terlambat. Kapal Van Der Wijck tenggelam. Zainuddin menemukan Hayati telah menjadi mayat.
Dua tahun kemudian, setelah mengalami kondisi kesehatan yang terus menurun, Zainuddin meninggal. Ia dimakamkan di samping pusara Hayati.
Demikianlah ringkasan ceritanya. Dua sad ending love story yang hampir sama. Namun bagi saya pribadi, membaca novel “Tenggelamnya Van Der Wijck” jauh lebih menguras emosi. Bahasa mendayu-dayu yang ditulis Buya begitu menyentuh. Surat-surat Zainuddin-Hayati begitu hidup, memilukan, dan menguras air mata. Apalagi ketika di akhir cerita dikisahkan tentang Zainuddin yang tak mengizinkan siapapun memasuki kamarnya. Rupanya, ada sebuah lukisan dalam kamar itu. Hayati diam-diam memasukinya, dan barulah ia tahu lukisan itu adalah gambar dirinya. Bagaimana sesaknya dada Hayati saat itu seolah turut terasa oleh saya. Setting novel yang made in Indonesia pun terasa lebih familiar dibanding “Magdalena” yang Franch.
Lepas dari polemik yang pernah ada, keduanya tetap layak dibaca sebagai karya sastra yang menggugah sekaligus melembutkan hati.

3 comments:

  1. "Sayang sekali, Magdalena tak cukup tangguh memegang janji. Gemerlap duniawi sejenak membuatnya terlena, dan melupakan Stevan yang tengah berjuang merintis jalan penghidupan demi masa depan mereka. Magdalena memutuskan menikah dengan laki-laki lain yang dipandang lebih berkecukupan"

    Kutipan di atas itu benar kah?
    Bila iya, maka HB Jassin benar, Tenggelamnya Kapal van Der Wijck adalah saduran bukan plagiat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, memang demikian jalan ceritanya :)

      Delete
    2. punya e-book magdalena gak? kalau ada minta soft filenya donk.. :)

      Delete

 

Kalender


Album 1

Album 2